Sejarah Desa Wonoyoso

Kabarkebumen.com - Minggu, 15 Mei 2018 | 20:08 WIB
Kantor Balai Desa Wonoyoso Kuwarasan

GOMBONG, KABARKEBUMEN.COM - Alkisah, tersebutlah tiga serangkai tokoh bernama Ki Wiracapu, Nyai Rantamsari dan Ki Planawira. Tidak ada keterangan pasti apakah mereka mempunyai hubungan darah atau sama – sama pengembara, mereka bertiga mengembara sampai di suatu wilayah baru yang masih asing. 

Untuk memperluas pengaruh mereka di wilayah baru tersebut, mereka berpisah dan masing – masing masuk ke wilayah yang berbeda. 

Ki Wiracapu yang dari segi usia lebih senior memutuskan untuk masuk melalui wilayah utara. Nyai Rantamsari engambil wilayah tengah dan Ki Planawira masuk melalui wilayah selatan.

Di wilayah utara, Ki Wiracapu benar – benar dihadapkan pada keadaan yang mengharuskannya mengerahkan segenap tenaga dan pikiran. 

Hutan yang sangat  lebat penuh dengan pohon – pohon besar dibatasi oleh daerah rawa yang penuh dengan tanaman pandan. Sampai pada akhirnya beliau terpaksa harus kembali karena terhalang kali Cing – cing Guling, sementara untuk menembus area Nyai Rantamsari dirinya terhalang daerah berawa yang cukup luas yang dipenuhi tanaman pandan. 

Posisinya benar – benar terjepit diantara Kali Cing – cing Guling dan Rawa Pandan. Sebagai pengingat beliau menamakan daerah tersebut “ Kecepit “ dan “ Kedung Pandan “. 

Ki Wiracapu berkedudukan di wilayah tersebut sampai beliau wafat dan tempat yang diyakini sebagai makamnya sampai sekarang masih terus diziarahi oleh penduduk desa.

Akan halnya Nyai Rantamsari di sektor tengah dan Ki Planawira di selatan tidak begitu mengalami kendala berarti dalam membuka wilayah. Namun sebagai seorang wanita, walau sedigjaya apapun. Beliau  tidak bisa lepas dari kodratnya yang mudah panik. 

Sedikit – sedikit beliau “ prak – prakan “. Demi stabilitas kehidupan akhirnya Ki Planawira menggabungkan dua wilayahnya  tersebut dengan wilayah Nyai Rantamsari. 

Sebagai jembatan pengingat maka dinamakanlah wilayah tersebut sebagai “ Emprak “ dan “ Penunggalan “ dengan Ki Planawira sebagai pemimpinnya. Sementara Nyai Rantamsari berperan sebagai pembantu di wilayah Penunggalan.

Karena kedekatan emosionalnya dengan wilayah tengah Nyai Rantamsari diyakini tetap disemayamkan di wilayah tengah bersama Ki Planawira. 

Keyakinan ini berdasar adanya dua kubur di wilayah tengah yang sampai sekarang tetap diziarahi oleh penduduk setempat. Sementara di wilayah selatanpun Nyai Rantamsari mempunyai petilasan walau cuma sekedar tempat singgah.


Editor : Budi

Komentar