Sungai Luk Ulo Kebumen Defisit Pasir dan Picu Ancaman Kekeringan

Kabarkebumen.com - Kamis, 12 Apr 2018 | 10:10 WIB
Penambangan pasir di Sungai Luk Ulo Kabupate Kebumen, Jawa Tengah

KEBUMEN, KABARKEBUMEN.COM - Penambangan pasir dan meterial lain yang tak terkendali di Sungai Luk Ulo Kabupate Kebumen, Jawa Tengah menyebabkan sungai terbesar di Kebumen ini mengalami krisis pasir. Defisit pasir itu ternyata juga menyebabkan krisis air saat musim kemarau.

Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Balai Informasi Konservasi da Kebumian (BIKK) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Karangsambung, Edi Hidayat mengatakan, berdasar penelitian tahun 2017 lalu, Sungai Luk Ulo, terutama di wilayah Konservasi Geologi Karangsambung, mengalami defisit pasir dalam kurun waktu 10 tahun terakhir.

“Kita pernah melakukan penelitian, kawasan Luk Ulo, terutama yang berada di tengah kawasan cagar alam geologi itu, sebenarnya pasirnya defisit,” katanya.

Padahal, pasir merupakan spons (penyerap) air untuk menyimpan air. Akibatnya, saat hujan air langsung mengalir ke muara tanpa diserap. Sebab itu, pada musim kemarau Sungai Luk Ulo mengalami penurunan debit yang signifikan.

Bahkan, sumur-sumur yang berada di dekat sungai, di sekitar Desa Karangsambung Kecamatan Karangsambung Kabupaten Kebumen kering ketika tak turun hujan selama sebulan di tahun 2017 lalu.

“Dan yang terjadi, kasus yang dekat-dekat kampung sini saja (Karangsambung) kemarau, tahun kemarin, kering bener tidak ada hujan sebulan. Sumur penduduk yang berada di dekat sungai, kering, ironis itu,” jelasnya.

Dia menjelaskan pasir datang dari daerah hulu dan pegunungan. Namun, jumlah pasir yang datang ke Sungai Luk Ulo tersebut tidak sebanding dengan pasir yang ditambang sepanjang tahun. Diperkirakan tiap tahun Sungai Luk Ulo defisit sebesar 20%.

“Jadi kalau misalnya yang diambil 10 truk, yang datang secara alami itu cuma delapan truk,” ujarnya.

Edi mengemukakan, Karangsambung telah ditetapkan sebagai Kawasan Cagar Alam Geologi. Sebab itu, segala bentuk kegiatan harus atas rekomendasi dari BIKK LIPI. Namun, dia mengakui LIPI tak bisa memaksa penambang untuk menghentikan aksi penambangan. LIPI hanya bisa mendorong lembaga berwenang untuk menindak penambang liar.

Dalam jangka panjang, defisit pasir bisa menyebabkan bencana geologi lantaran berubahnya struktur sungai yang berimbas pada semakin cepatnya degradasi atau penurunan kualitas alam. Sebab itu, ia menyerukan agar seluruh pihak, mulai masyarakat, pemerintah desa dan pemerintah daerah lebih ketat dan tegas untuk melindungi kawasan konservasi.


Editor : Setiyo
Sumber : gatra

Komentar