Cerita di Balik Terbentuknya Pulau Momongan, Ada Pengalaman Tsunami 2006 di Pantai Ayah Kebumen

Kabarkebumen.com - Rabu, 05 Apr 2018 | 13:15 WIB
Para relawan Tagana Kebumen menanam bibit mangrove di pesisir pantai Ayah Kebumen untuk tangkal bencana laut.

KEBUMEN, KABARKEBUMEN.COM - Di sebuah pulau yang disebut Momongan, muara sungai Desa Ayah Kecamatan Ayah, Kabupaten Kebumen, puluhan ribu pohon bakau tumbuh rimbun.

Pulau yang tampak menghijau itu belum lama ini diresmikan oleh Menteri Sosial Idrus Marham dalam peringatan Ulang Tahun Taruna Siaga Bencana (Tagana) ke 14 di Ayah, Kebumen, Senin (2/4/2018) lalu.

Pulau yang terbentuk dari sedimentasi atau tanah endapan itu menjadi begitu penting bagi masyarakat pesisir Ayah, dan beharga bagi Tagana.

Kawasan hutan bakau bisa menjadi penangkal gelombang air pasang, bahkan tsunami yang setiap saat bisa terjadi. Bagi Tagana, pulau itu menjadi spesial karena berperan mengurangi risiko bencana yang sejalan dengan misi organisasi itu.

Terlebih bagi Sukamsi, relawan Tagana Kebumen yang selama ini banyak mendedikasikan hidupnya untuk kegiatan sosial.

Pulau Momongan adalah raport bagi dia dengan hasil yang membanggakan. Ia berjuang dari titik nol. Kawasan yang dulunya gersang dihijaukan hingga enak dipandang.

"Pulau Momongan yang menamai masyarakat. Awalnya itu sedimen, dulunya kecil terus melebar jadi luas. Dinamakan momongan, biar bisa momong atau mengayomi warga," kata Sukami, peraih peghargaan Tagana Teladan Nasional 2017, Kamis (5/4/2018).

Sering terlibat dalam penanganan kebencanaan membuat hatinya terpantik untuk berupaya mengurangi risiko bencana. Kebetulan, dia tinggal di pesisir, Desa Karangduwur Kecamatan Ayah Kebumen yang turut merasakan cemas terhadap potensi bencana laut.

Peristiwa tsunami Pangandaran 2006 silam jadi pelajaran beharga bagi warga untuk sadar akan risiko bencana laut. Saat itu, wilayah Ayah hingga Jetis Kebumen ikut terdampak karena terjangan tsunami. Efek tsunami saat itu bahkan mencapai 2,5 kilometer dari bibir pantai.

Banyak infrastruktur wisata hingga rumah penduduk hancur karena tsunami. Penduduk berlarian ke bukit-bukit hingga selamat dari musibah mengerikan itu.

Sementara di garis pantai yang sama, sekitar 20 kilometer dari Ayah, yakni wilayah pesisir pantai Widarapayung Cilacap, ratusan warga atau wisatawan meninggal karena tersapu gelombang tsunami.

"Kalau di Ayah paling rumah atau fasilitas umum rusak, karena penduduk tahu lebih dulu air laut naik. Untungnya di sini banyak bukit, mereka naik bukit hingga selamat," katanya.

Sukamsi mengambil momentum itu untuk menyadarkan warga terhadap potensi bencana yang setiap saat bisa datang kembali.

Ia mulai menginisiasi penanaman tumbuhan pesisir yang mampu membendung gelombang air laut, semisal Mangrove dan Cemara Laut.

Pohon Bakau yang tersisa usai tsunami dia rawat agar tetap hidup dan tumbuh dengan baik. Sementara lahan yang masih lapang, dia tanami dengan bibit tanaman baru.

Merawat bibit hingga besar sama halnya membangun benteng untuk melindungi warga dari serangan tsunami. Karena itu Sukamsi bersemangat merawatnya tanpa pamrih.

Kini benteng alami itu sudah terlihat, membentang di sepanjang pesisir pantai Kebumen. Namun pekerjaan itu belum selesai. Sukamsi bersama teman relawannya yang lain masih akan terus memperluas penanaman mangrove hingga keamanan masyarakat terjamin dari ancaman bencana.

"Ibaratnya, jangan sampai ada sejengkal tanah yang tidak ditanami. Apalagi wilayah Ayah, dan Jetis ini masuk zona merah rawan tsunami,"katanya.(*)


Editor : Setiyo
Sumber : tribunnews

Komentar