Desa Mangli Sentra Sale Pisang Goreng Kebumen

Kabarkebumen.com - Selasa, 31 Mar 2018 | 09:56 WIB
Pisang dipipihkan kemudian dijemur, setelah itu digoreng dengan balutan adonan tepung. (Foto: Bagus S)

MANGLI, KABARKEBUMEN.COM - Desa Mangli, Kecamatan Kuwarasan, Kabupaten Kebumen, menjadi sentra industri rumah tangga sale pisang goreng. Perajin memanfaatkan pisang uter, ada yang menyebut pisang raja bandung atau pisang siem, untuk diolah menjadi sale.

Ada belasan perajin sale pisang goreng di desa tersebut. Perajin mempertahankan cita rasa dengan menggantungkan terik sinar matahari untuk menjemur pisang hingga menjadi sale. Demikian pula saat menggoreng sale, bertahan dengan tungku kayu bakar.

"Selain hemat biaya produksi, rasanya lebih enak dibanding sale yang dalam proses pengeringannya menggunakan alat pengering listrik atau gas, dan yang digoreng dengan kompor gas," ujar Fatonah (50) salah satu perajin sale pisang goreng di Desa Mangli, Kamis (29/3/2018).

Proses produksi diawali memipihkan pisang yang sudah matang konsumsi dengan cara ditekan di cetakan. Setelah itu dijemur selama 3 hari. Jika penjemuran memakan waktu lebih dari 3 hari akibat sering turun hujan, menurut Fatonah akan menurunkan kualitas karena warna sale menjadi hitam gelap. Perajin pun menyiasati dengan menurunkan produksi. Bahkan sampai menghentikan produksi.

"Kalau hujan terus, yang berhenti hanya proses membuat sale. Kalau menggoreng, jalan terus karena saat matahari bersinar terik, produksi sale digenjot untuk disimpan," ujar Fatonah yang sudah 16 tahun menekuni usaha pembuatan sale pisang yang digoreng menggunakan balutan adonan tepung.

Dalam sehari, Fatonah yang dibantu beberapa pekerja perempuan di desanya, rata-rata menghasilkan 25 kilogram sale pisang goreng siap jual. Tidak ada kendala pemasaran karena berapapun yang dihasilkan, dibeli oleh para bakul langganannya. 

"Kendalanya justru pada pasokan pisang. Terkadang pemasoknya terlambat datang, atau dipasok lebih sedikit dari yang dipesan," ungkap Fatonah yang menjual hasil produksinya Rp 18.000 hingga Rp 20.000 perkilogram. 


Editor : Setiyo
Sumber : krjogja

Komentar