Pemuda Masa Depan Dalam Wadah Kemah Perdamaian

Kabarkebumen.com - Rabu, 08 Mar 2018 | 11:43 WIB

KABARKEBUMEN.COM - Lombok Youth Camp merupakan sebuah rangkaian proses kegiatan perkemahan pemuda muslim se-Indonesia yang diikuti oleh 200 mahasiswa-mahasiswi PTKIN seluruh Indonesia dan dibawahi langsung oleh Nusatenggara Centre Mataram. Selain itu, Nusatenggara Centre juga bekerjasama dengan Pusat Pengembangan Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan juga UNDP (United Nation Development Program).

Pihak-pihak tersebut bekerjasama menyelenggarakan acara Lombok Youth Camp, tidaklah lain memiliki sebuah harapan untuk bisa melahirkan agen-agen bina damai dikalangan mahasiswa atau pemuda. Kegiatan besar tersebut, rencananya dilaksanakan pada akhir tahun 2017.

Akan tetapi, baru terlaksana awal tahun 2018 belum lama ini yang berlangsung pada tanggal 21-25 Januari 2018 di Tempat Wisata Pantai Klui, Lombok Utara. Pengunduran jadwal kegiatan pelaksanaan tersebut disebabkan karena gangguan cuaca yang tidak mendukung terlaksananya acara tersebut pada tahun 2017. 

Adapun yang melatarbelakangi hajat besar ini adalah kekhawatiran pemerintah akan terpengaruhnya remaja sebagai generasi penerus oleh ideologi-ideologi radikal, tindak kekerasan, terorisme, dan ekstrimisme yang akan menghancurkan kokohnya negara dan bangsa Indonesia ini. Perlunya pemberian materi perihal tindakan-tindakan yang telah disebutkan di atas, pastinya akan sulit untuk dipahami oleh para peserta.

Namun, berbeda dengan acara yang satu ini bahan-bahan materi tersebut disajikan secara beragam dan menarik yang dapat dinikmati dan dipahami langsung oleh para peserta. Dengan konsep I S L A M ( I See I Learn I Act and I Move On) yang digagaskan oleh tim Nusatenggara Centre menjadi mudahlah kami menangkap apa yang telah dimaksudkan para tim Lombok Youth Camp dalam menyusun bahan-bahan materinya.

Menurut Mokhammad Fadhil Musyafa’ Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam IAIN Surakarta, yang merupakan salah satu peserta dari 200 mahasiswa terpilih, mengatakan bahwa acara tersebut memanglah menarik dan meninggalkan cerita yang memiliki kesan tersendiri. Selain itu, pematerinya juga didatangkan dari berbagai tokoh yang berpengaruh di ranah bumi pertiwi. Salah satunya adalah TGB (Tuan Guru Bajang) Dr. KH. Muhammad Zainul Madji, MA yang merupakan Gubernur Nusa Tenggara Barat. Beliau dihadirkan ditengah-tengah kami guna memberikan petuah-petuahnya perihal islam rahmatallil’alamin pada majelis harmoni Lombok Youth Camp 2018.

Poin yang dapat saya ambil dari apa yang telah disampaikan beliau adalah bahwa dalam menjalankan roda kehidupan bernuansa islami harus memiliki tiga titik konsentrasi yang saling berkaitan. Diantaranya adalah ilahiah, insaniah dan akhlaqiah. Tiga titik tersebut selalu ditekankan oleh TGB kepada kami (para pemuda) untuk bisa saling memadukan antar ketiganya guna mempertahankan keutuhan dalam keberagaman yang ada di Indonesia. Sebagaimana kita tahu, bahwa pemuda adalah harapan bangsa bukan ‘biangkeroknya’ dari masalah yang ada. 

Tidak sampai pada TGB (Tuan Guru Bajang) saja tokoh yang dihadirkan oleh Nusatenggara Centre, melainkan adapula Bapak Drs. Imam Gunawan selaku Sekretaris Menpora bidang pengembangan pemuda dan juga Bapak H. Herwan Chaidir selaku ketua dari BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme)  Indonesia turut dihadirkan di tengah-tengah kami. Para tokoh-tokoh yang berperan tersebut tidaklah diragukan lagi penguasaan materi dan cara penyampaiannya kepada para peserta.

Sehingga didapatinya pemahaman mengenai materi yang dibawakannya. Pokok bahasan yang dibawakan Kemenpora menekankan kepada kami (pemuda) penerus bangsa untuk menjaga serta merawat rasa nasionalisme dan ke-Indonesiaan bangsa. Dengan memiliki rasa Nasionalisme dan ke-Indonesiaan yang tinggi maka ideologi radikal, tindakan kekerasan, terorisme, dan ekstrimisme bisa disingkirkan dari negara yang cinta damai ini.

Lain halnya dengan Bapak H. Herwan Chaidir yang membawakan pokok bahasan mengenai Cegah Kekerasan, Ekstrimisme, Radikalisme, dan Terorisme. Pembahasan tersebut memang sudah sepantasnya disajikan kepada para kaum pemuda sebagai bahan renungan dan untuk bisa dihindari. Sangatlah menarik perhatian para peserta memang, karena berkaitan dengan dunianya yang semakin kesini semakin “edan”.

Kekerasan terjadi dimana-dimana, radikalisme liar tanpa pandang mata, ekstrimisme semakin kuat citranya, dan terorisme simpang siur mulai terencana. Maka dari itu tidak heran Bapak H. Herwan Chaidir selaku kepala BNPT dan juga ulama yang pandai dalam ilmu pemerintahan selalu menekankan kepada kita (pemuda) untuk bisa mengambil alih gerakan-gerakan yang berbau seperti itu ke ranah yang lebih positif dan eksklusif. Damailah pasti negeri ini jikalau tidak ada huru hara kekerasan radikalisme, ekstrimisme dan terorisme.            

Mokhammad Fadhil Musyafa’ sendiri menilai bahwasanya acara Lombok Youth Camp ini  memiliki peran yang sangat berpengaruh terhadap tumbuh kembangnya pemuda penerus bangsa untuk terbebas dari ideologi-ideologi radikal, tindak kekerasan, terorisme, dan ekstrimisme. Terlepas dari hal tersebut, terciptalah pemuda yang cinta damai dalam keberagaman yang dirangkul bangsa Indonesia. Tidak hanya sebatas itu, program dari Nusatenggara Centre juga memiliki kompetensi untuk menciptakan generasi-generasi emas pemimpin bangsa dimasa depan.

 

Alumni Lombok Youth Camp 2018

Mokhammad Fadhil Musyafa’ Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan IAIN Surakarta       


Penulis : Mokhammad Fadhil Musyafa
Editor : Setiyo

Komentar