Sejarah Hari Kasih Sayang

Kabarkebumen.com - Minggu, 14 Feb 2018 | 11:46 WIB
Ilustrasi Hari Kasih Sayang.

KEBUMEN, KABARKEBUMEN.COM - Hari Kasih Sayang dari tahun-ke tahun terus dirayakan, terutama oleh anak-anak muda. Sebagai ungkapan cinta di Hari Kasih Sayang ini, mereka saling mengirimkan pesan cinta atau hadiah, terutama bunga, kepada pasangannya atau kepada orang yang dikasihinya.

Bagaimana asal-usul dan sejarah lahirnya Hari Kasih Sayang? Umumnya dikaitkan dengan Santo Valentinus, yaitu seorang martir yang dihukum mati karena keteguhannya dalam mempertahankan keyakinannya.

Tentang sejarah asal usul Hari Kasih Sayang ini, terdapat banyak versi yang menjadi rujukannya. Di sini dipaparkan 3 versi yang lebih umum.

Versi Pertama

Menurut Ensiklopedi Katolik, nama Valentinus diduga bisa merujuk pada tiga martir atau santo (orang suci) yang berbeda, yaitu pastor di Roma, Uskup Interamna, dan martir di sebuah Provinsi Romawi.

Hubungan antara ketiga martir ini dengan Hari Kasih Sayang tidak jelas. Bahkan Paus Gelasius I, pada tahun 496, menyatakan bahwa sebenarnya tidak ada yang diketahui mengenai martir-martir ini, namun Sri Paus menetapkan juga 14 Februari sebagai hari peringatan Santo Valentinus.

Ada yang mengatakan bahwa Paus Gelasius I sengaja menetapkan hal ini untuk mengungguli Hari Raya Lupercalia yang dirayakan pada 15 Februari. 

Sisa-sisa kerangka yang digali dari makam Santo Hyppolytus, diidentifikasikan sebagai jenazah Santo Valentinus.

Kemudian, jenazah itu ditaruh dalam sebuah peti dari emas dan dikirim ke Gereja Whitefriar Street Carmelite di Dublin, Irlandia. Jenazah ini telah diberikan kepada mereka oleh Paus Gregorius XVI pada 1836.

Banyak wisatawan sekarang yang berziarah ke gereja ini pada Hari Valentine (14 Februari), di mana peti dari emas diarak dalam sebuah prosesi dan dibawa ke sebuah altar.

Pada hari itu dilakukan sebuah misa yang khusus diadakan dan dipersembahkan kepada para muda-mudi dan mereka yang sedang menjalin hubungan cinta.

Hari raya ini dihapus dari kalender gerejawi pada tahun 1969 sebagai bagian dari sebuah usaha yang lebih luas untuk menghapus santo-santo yang asal-muasalnya tidak jelas, meragukan dan hanya berbasis pada legenda saja.

Versi Kedua

Catatan pertama dihubungkannya hari raya Santo Valentinus dengan cinta romantis adalah pada abad ke-14 di Inggris dan Perancis, di mana dipercayai bahwa 14 Februari adalah hari ketika burung mencari pasangan untuk kawin.

Kepercayaan ini ditulis pada karya sastrawan Inggris bernama Geoffrey Chaucer. Ia menulis di cerita "Parlement of Foules" (Percakapan Burung-Burung), "Inilah dikirim pada hari Santo Valentinus, saat semua burung datang ke sana untuk memilih pasangannya."

Pada zaman itu bagi para pencinta sudah lazim untuk bertukaran catatan pada Hari Valentine dan membarikannya kepada pasangan Valentine mereka.

Sebuah kartu Valentine yang berasal dari abad ke-14 konon merupakan bagian dari koleksi naskah British Library di London.

Versi Ketiga

Valentinus hidup di kerajaan yang saat itu dipimpin oleh Kaisar Claudius yang terkenal kejam. Ia sangat membenci kaisar tersebut. Claudius berambisi memiliki pasukan militer yang besar, ia ingin semua pria di kerajaannya bergabung di dalamnya.

Namun, sayangnya keinginan ini tidak didukung. Para pria enggan terlibat dalam peperangan, karena mereka tidak ingin meninggalkan keluarga dan kekasih hati mereka.

Hal ini membuat Claudius marah, dia segera memerintahkan pejabatnya untuk melakukan sebuah ide gila. Claudius berpikir bahwa jika pria tidak menikah, mereka akan senang hati bergabung dengan militer.

Lalu Claudius melarang adanya pernikahan. Pasangan muda saat itu menganggap keputusan ini sangat tidak masuk akal. Karenanya Santo Valentinus menolak untuk melaksanakannya.

Santo Valentinus tetap melaksanakan tugasnya sebagai pendeta, yaitu menikahkan para pasangan yang sedang jatuh cinta meskipun secara rahasia. Aksi ini akhirnya diketahui oleh kaisar dan segera memberinya peringatan. Namun, ia tidak menggubris dan tetap memberkati pernikahan dalam sebuah kapel kecil yang hanya diterangi cahaya lilin.

Sampai pada suatu malam, ia tertangkap basah memberkati salah satu pasangan. Pasangan tersebut berhasil melarikan diri, namun malang Santo Valentinus tertangkap. Ia dijebloskan ke dalam penjara dan divonis hukuman mati dengan dipenggal kepalanya.

Bukannya dihina oleh orang-orang, Santo Valentinus malah dikunjungi banyak orang yang mendukung aksinya itu. Mereka melemparkan bunga dan pesan berisi dukungan di jendela penjara di mana dia ditahan.

Salah satu dari orang-orang yang percaya pada cinta kasih itu adalah putri penjaga penjara sendiri. Sang ayah mengijinkan putrinya untuk mengunjungi Santo Valentinus. Tak jarang mereka berbicara lama sekali. Gadis itu menumbuhkan kembali semangat sang pendeta. Ia setuju bahwa Santo Valentinus telah melakukan hal yang benar.

Pada hari di saat ia menjalani hukuman penggal, yakni pada 14 Februari 270 Masehi, Santo Valentinus menyempatkan diri menuliskan sebuah pesan untuk gadis putri sipir penjara tadi, ia menuliskan, "Cinta dari Valentine-mu".

Pesan itulah yang kemudian mengubah segalanya. Kini setiap 14 Februari orang di berbagai belahan dunia merayakannya sebagai Hari Kasih Sayang. Santo Valentinus dikenang sebagai pejuang cinta.

Sejak kematian Valentinus pada 14 Februari tersebut, kisahnya menyebar dan meluas, hingga tidak satu pelosokpun di Roma yang tak mendengar kisah hidup dan kematiannya. Kakek dan nenek mendongengkan cerita Santo Valentinus kepada anak dan cucunya sampai pada tingkat pengkultusan.


Editor : Setiyo
Sumber : netralnews

Komentar