Mengandung Babi, Produk Viostin DS Sudah Ditarik Dari Kebumen

Kabarkebumen.com - Selasa, 08 Feb 2018 | 15:27 WIB

KEBUMEN, KABARKEBUMEN.COM - Heboh kabar adanya kandungan DNA babi pada produk obat radang sendi Viostin ds dan obat radang rambung Enzyplek dampaknya sudah terasa di Kabupaten Kebumen. Sejumlah minimkarket dan apotik di Kota Beriman, kedua produk tersebut sudah ditarik dari peredaran.

"Biasanya ada tapi ini sudah ada sebulan tidak ada," kata Susiana (21) salah satu karyawan minimarket yang berada di Mertokondo, Selasa (6/2/2018).

Susiana mengaku tak tahu persis mengapa kedua produk tersebut ditarik.  Munarso Aji (25) karyawan minimarket yang berada di jalan raya Karangsambung Mertokondo mengatakan, produk obat tersebut bahkan sudah ditarik awal bulan November 2017 lalu. "Produk Viostin DS sudah ditarik dari pusat sejak bulan november kemarin," katanya.

Munarso menjelaskan penarikan dua produk  tersebut melalui pesan email untuk produk tersebut akan ditarik. "Kami tidak tahu alasanya hanya diperintahkan dan diberi tahu bahwa barang tersebut ditarik dari pusat sekarang kami sudah tidak menyediakan," ungkapnya.

Ditariknya produk obat Viosin Ds dan Enzyplex sejak November juga dibenarkan oleh karyawan apotik di Jl Pemuda. Menurut karyawati apotik  K24 yang tak mau menyebutkan nama, produk tersebut sudah ditarik dari peredaran sejak November 2017

Deputi Bidang Pengawasan Produk Terapetik dan NAPZA, Nurma Hidayati, dalam konferensi pers BPOM yang diadakan di Jakarta, Senin (5/2/2018),  menjelaskan ada sejumlah alasan di balik pemakaian babi dalam jenis obat tertentu.

 "Viostin DS mengandung suatu zat dinamakan kondriotin, ini berasal dari ekstrak hewan, untuk mengetahui apa hewannya kita lihat DNA-nya. Di Enzyplex, ada enzim pencernaan yang juga bersumber dari hewan, ini yang ingin kita ketahui," kata Nurma.

Kondriotin sendiri menurut pendapat ahli digunakan untuk meringankan gejala dan menghentikan proses degeneratif osteoarthritis. Sedangkan enzim yang digunakan oleh Enzyplex itu dipergunakan membantu melancarkan pencernaan. Nah, kedua zat ini biasanya didapatkan dari ekstrak hewan seperti sapi atau babi.

Penny K. Lupito, Kepala BPOM juga menyampaikan pendapatnya mengenai masalah tersebut dalam kesempatan yang sama. Penny mengungkap bahwa pihak BPOM belum mengetahui secara pasti motif kedua produsen tersebut menggunakan babi dalam proses produksinya.

"Kenapa babi? Bisa jadi lebih murah, lebih mudah mendapatkannya. Saya tidak tahu. Ini menjadi tugas produsen usaha. BPOM memberikan trust pelaku usaha untuk bersama-sama bertanggung jawab terhadap produksi, sesuai kesepakatan kita sebelumnya," jelasnya.


Editor : Setiyo
Sumber : kebumenekspres

Komentar