Benteng Pendhem Argopeni Menelisik Sejarah Zaman Penjajahan

Kabarkebumen.com - Minggu, 16 Jan 2018 | 21:27 WIB
Benteng Pendhem Argopeni

KEBUMEN, KABARKEBUMEN.COM - Benteng Pendem ternyata tidak hanya terdapat di Cilacap saja, melainkan juga ada di kabupaten berslogan Beriman ini. Benteng tersebut berada di Desa Argopeni Kecamatan Ayah. Masyarakat berharap lokasi tersebut dapat dijadikan tempat pariwisata.

Bukan hanya satu, bangunan benteng yang diduga sebagai pertahanan sekaligus pengintaian itu, berjumlah delapan bangunan yang terpisah-pisah. Beberapa benteng dibangun di kawasan lahan perhutani, tepatnya di Bukit Wanalela desa setempat.

Sekretaris Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Argo Kencana Jaeni Solihun menyampaikan, sebelumnya keberadaaan benteng sama sekali tidak terawat dan terabaikan. Kondisinya sangat kumuh penuh dengan kotoran. Keinginan yang kuat untuk menjadikan kawasan tersebut sebagai objek wisata, membuat masyarakat berusaha untuk membersihkannya. “Kini kami sedang dalam proses membuat jalan, sehingga nantinya keberadaan benteng dapat diakses dengan mudah,” tuturnya, Senin (15/1/2018)

Dijelaskannya, meski agar berjauhan, namun lima benteng dibangun di satu lokasi. Sedangkan tiga lainnya agar berjauhan dari lima bangunan yang ada. Hampir semua benteng dibangun dengan jendela menghadap ke arah laut. Sedangkan pintu masuknya membelakangi laut. Benteng dibangun menggunakan beton tebal dan atasnya di urug dengan batu dan tanah. Saking lamanya, kini bagian atas benteng telah banyak yang ditumbuhi pohon besar, seperti Jati dan Winong. Terdapat pula, bangunan yang berada di bawah batu yang sangat besar. “Ini dapat menjadi wisata sejarah bagi masyarakat. Benteng merupakan peninggalan tentara Jepang,” paparnya.

Beberapa bangunan telah berhasil dibersihkan. Sementara itu yang lainnya belum dapat dibersihkan. Terdapat benteng yang masih tertimbun bebatuan dan tanah sehingga belum dapat di kunjungi. Di kawasan tersebut terdapat pula, ruangan bawah tanah besar, yang disinyalir merupakan tempat penampungan air.

Kamulya (89) warga setempat salah satu saksi hidup yang juga turut membangun menyampaikan, benteng dibangun oleh tentara Jepang pada tahun 1942. Setiap satu unit benteng harus dibangun dan selesai dalam waktu satu hari. “Pembangunan harus selesai dalam waktu satu hari. Sebab semua dibangun menggunakan cor maka jika sampai berhenti dikhawatirkan akan retak. Setelah selesai dibangun, bagian atas benteng diuruk menggunakan batu dan tanah,” jelasnya.

Disampaikan pula, pembangunan benteng juga melibatkan masyarakat pribumi. Adapun gaji untuk pekerja biasa yakni sebesar 19 Sen (mata uang yang berlaku saat itu). Sedang untuk tukang dibayar sebesar 24 Sen. Saat itu 1 Sen dapat untuk membeli satu bungkus nasi. “Untuk material berupa pasir dan semen didatangkan dari Cilacap. Kita hanya mengerjakan saja,” ucapnya.


Editor : Setiyo
Sumber : kebumenekspres

Komentar