Duh! Kualitas Udara di Kebumen Makin Tidak Sehat

Kabarkebumen.com - Kamis, 11 Jan 2018 | 11:21 WIB
Salah satu titik keramaian transportasi di pusat kota Kebumen. (Foto: Dasih Darmawati)

KEBUMEN, KABARKEBUMEN.COM - Kualitas udara di wilayah Kabupaten Kebumen sejak tahun 2017 hingga 2018 terus dipantau oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kebumen maupun Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah. Kendati sampel lokasi pemantauannya sama, namun metode yang digunakan berbeda.

"Pemantauan oleh Pemkab Kebumen menggunakan metode manual aktif, sedangkan Pemprov Jawa Tengah menggunakan metode 'passive sampler'. Perbedaan kedua metode ini adalah pada peralatan dan cara pemantauannya, juga cara menganalisa hasil pemantauannya," ungkap Kabid Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Dinas Perumahan Kawasan Pemukiman dan Lingkungan Hidup Kebumen, Ifah Ismatul Banat SPt, di ruang kerjanya, Rabu (10/01/2018).

Dalam hal hasil analisa, kedua metode tersebut menurut Ifah tak jauh berbeda. Hanya saja metode passive sampler lebih cermat dalam mendapatkan detail angka pecahan karena alat pendeteksinya lebih canggih dibandingkan manual aktif.

"Ada 13 partikel udara pada kawasan terpantau yang dianalisa konsentrasinya, diantaranya Sulfur Dioksida (SO2), Karbon Monoksida (CO), Nitrogen Dioksida (NO2), Oksida (O3), Hidro Karbon (HC), Debu (TSP), Timah Hitam (Pb) dan Debu Jatuh (Dustfall)," papar Ifah.

Adapun lokasi pemantauan dipilih empat titik yang memiliki tingkat aktifitas keseharian  maupun kegiatan warga yang cukup tinggi. Yaitu, kawasan transportasi dipilih simpang tiga Dukuh Kedungbener Desa Sumberadi Kecamatan/Kabupaten Kebumen. Sedangkan kawasan pemukiman penduduk di Dukuh Keposan Kelurahan/Kecamatan/Kabupaten Kebumen.

Kawasan industri di Desa Selokerto Kecamatan Sempor dan kawasan perkantoran di Sekretariat Daerah Kabupaten Kebumen di Jalan Veteran Kebumen. Namun sebagai pembanding, Pemkab Kebumen juga memantau kondisi di luar keempat titik tersebut, di antaranya di pusat keramaian daerah perkotaan Kebumen.

"Dalam setahun kami memantau di saat musim kemarau maupun musim penghujan dan secara garis besar hasil pemantauan kualitas udara di 4 lokasi tersebut tahun 2017 lalu masih belum membahayakan, karena di bawah baku mutu udara ambien nasional maupun provinsi," jelas Ifah.


Editor : Setiyo
Sumber : krjogja

Komentar