Kontribusi Sarang Burung Walet Menurun

Kabarkebumen.com - Sabtu, 09 Jan 2018 | 20:25 WIB

KEBUMEN, KABARKEBUMEN.COM - Hingga tahun 2018 masih tetap mempertahankan  populasi walet di tiga gua unduhan di pesisir Kecamatan Ayah dan Buayan  Kebumen sebagai ikon atau kebanggaan daerah, namun Pemerintah Kabupaten  (Pemkab) Kebumen kini harus rela melepaskan ambisi untuk menjadikan sarang burung sebagai sumber pendapatan andal bagi kas daerah.

"Pada tahun anggaran 2017 lalu sarang burung walet ketiga gua hanya menghasilkan Rp 4,475 juta ke kas daerah dari pajak hasil penjualan sarang  burung. Sedangkan hasil penjualan sarang burungnya masuk ke kas desa setempat," ungkap Kepala Badan Pengelolaan Pendapatan Daerah (Bappenda) Kebumen, Aden Andri Susilo MSi, di ruang kerjanya, Selasa (09/01/2018).

Menurut Aden, memang ironis dengan kenyataan bahwasanya sarang burung lawet kini hanya memberi kontribusi Rp 4,475 juta ke kas daerah. Padahal di masa  jayanya, yaitu di dekade 1980 hingga 1990, komoditi Gua Pasir dan Karangduwur,  di Desa Pasir dan Karangduwur Kecamatan Ayah, serta Gua Karangbolong di Desa Karangbolong Kecamatan Buayan tersebut pernah mampu berkontribusi ratusan  juta hingga satu miliar rupiah lebih ke kas daerah.

"Sejak pengelolaan lawet tiga gua itu diserahkan kepada desa masing-masing  di tahun 2015, Pemkab Kebumen melepaskan ambisi untuk mendapatkan pemasukan dari hasil penjualan sarang burung lawet, karena penjualan sarang burung  menjadi hak desa ketiga desa itu. Sedangkan Pemkab Kebumen hanya memungut  pajak penjualannya saja," beber Aden

Dalam penyerahan wewenang pengelolaan lawet tiga gua itu, ketiga desa diberi wewenang  untuk mengelola pemeliharaan, pengunduhan dan penjualan hasil unduhan. Sedangkan Pemkab Kebumen hanya membantu biaya operasional pemeliharaan agar  populasi lawet tak punah dan masih bisa dijadikan sebagai ikon daerah. 


Editor : Setiyo
Sumber : krjogja

Komentar