Roemah Martha Tilaar Jadi Tempat Wisata

Kabarkebumen.com - Jumat, 05 Jan 2018 | 19:02 WIB
Museum Roemah Martha Tilaar di Gombong, Kebumen, Jawa Tengah. Roemah Martha Tilaar merupakan bangunan lama bergaya arsitektur neoklasik Eropa yang telah dipugar. Bangunan dengan tegel-tegel bermotif serta berkaca patri ini kini bertransformasi menjadi bangunan baru yang siap dikunjungi oleh wisatawan.(Dok. Rumah Martha Tilaar)

GOMBONG, KABARKEBUMEN.COM - sebuah kecamatan di Kabupaten Gombong, Jawa Tengah memiliki sebuah tempat wisata sejarah yang wajib untuk dikunjungi. Terletak di jalur selatan Pulau Jawa yang ramai dengan kendaraan bus maupun truk, ada sebuah “lorong” waktu bisa membawa Anda menjelajah sejarah sang pendiri Martha Tilaar.

Ya, tempat wisata yang masih baru di Gombong itu bernama “ Roemah Martha Tilaar”. Dari nama, tempat wisata yang menyimpan segala kenangan tentang Martha Tilaar bisa ditemui di tempat yang beralamat di Jalan Sempor Lama Nomor 28 ini adalah rumah masa kecil Martha.

Roemah Martha Tilaar merupakan bangunan lama bergaya arsitektur neoklasik Eropa yang telah dipugar. Bangunan dengan tegel-tegel bermotif serta berkaca patri ini kini bertransformasi menjadi bangunan baru yang siap dikunjungi oleh wisatawan.

Direktur Roemah Martha Tilaar, Reza Aditya saat ditemui beberapa waktu lalu mengatakan memulai proses restorasi bangunan sejak tahun 2013. Proses restorasi fisik bangunan berawal dari keinginan Martha Tilaar untuk memberdayakan masyarakat setempat lewat sebuah tempat wisata.

“Sebenernya karena awalnya keinginan Bu Martha untuk balik ke kampungnya. Jadi kan sebenarnya Bu Martha dia lahir dan besar di  Gombong sampai umur 10 tahun. Dia beli rumah keluarga ini dengan maksudnya untuk balik ke kampungnya. Satu pesan yang selalu ditekankan oleh Bu Martha untuk proyek (Roemah Martha Tilaar) ini, dia ingin rumah ini berfungsi untuk masyarakat dan memotivasi orang-orang lokal di sini. Bahwa pesannya adalah sukses. Ya jadi rumahnya keluarga ini dibeli tahun 2012, tahun 2013 itu restorasi fisik. Tahun 2014 kita masuk dengan bikin konsep,” kata Reza.

Reza memerkirakan keberadaan Roemah Martha Tilaar sudah berdiri sejak tahun 1920-an. Dulunya, masyakat segan untuk melewati rumah tempat Martha Tilaar lahir itu. Berbeda dengan situasi kini yang banyak dikunjungi wisatawan dan menjadi tempat kegiatan komunitas setempat.

“Saat tahun 2014 Februari itu ke sini. Kami audit masyarakat. Rumah ada besar itu (Roemah Martha Tilaar) itu seperti apa pandangannya. Ada yang bilang itu rumah hantu tuh, rumah angker. Setiap kali orang-orang cerita kalau lewat situ maunya cepat-cepat. Jadi naik motor, naik sepeda itu dikencangin. apalagi kalau udah malam,” ujar Reza.

Ia menceritakan sejak tahun 1970-an, Roemah Martha Tilaar sudah tak ditempati. Beberapa bagian rumah seperti atap, lantai, dan kaca rusak. Begitupun dengan rumput di halaman halaman yang tumbuh tak terawat.

“Rumput-rumput dan ilalang tinggi-tinggi. Jadi rumah utama ini yang ada dan paviliunnya. Kondisinya banyak lumayan kerusakannya. kebayangkan rusak di atap, plafon jebol, kaca patri pecah. interior dalam tegel itu ada juga yang rusak. beberapa ada yang rusak,” jelasnya

Namun, perlahan proses restorasi bangunan tua mengubah penampilan fisik. Kerusakan demi kerusakan diperbaiki. Lantai, plafon, dan atap diganti. Pihak pengelola Roemah Martha Tilaar pun menambah bangunan di sisi rumah utama.

“Kalau rusak ada yang kita bongkar dan kita satuin dan tambal. Bagian samping rumah kopi itu bikin baru karena ada kebutuhan. Kami buat aula untuk mengakomodir kebutuhan masyarakat,” tambahnya.

Bangunan tua yang dibangun tahun 1920 itu kini menjadi indah dengan cat putih dan krem yang mendominasi bangunan. Pohon manga dan berbagai tanaman obat menambah rindangnya suasana Roemah Martha Tilaar.

Rumah budaya yang jadi tempat wisata

Menjelajahi Roemah Martha Tilaar seperti masuk ke lorong waktu kehidupan Martha Tilaar. Di sudut kiri dari teras bangunan utama, wisatawan bisa melihat kamar tidur Martha Tilaar beserta keluarganya dahulu tinggal. Di bagian dalam rumah utama, wisatawan bisa melihat replika barang-barang semasa Martha Tilaar tinggal.

“Barang-barang itu semua baru. Jadi gak ada barang-barang yang tertinggal kecuali itu meja abu untuk sembahyang. Itu satu-satunya yang masih ada. Kami berusaha merekonstruksi atmosfir rumah keluarga jaman dulu seperti apa. kita ada dokumentasi foto-foto, jadi mejanya seperti ini. biasanya kita bikin replikanya. Semua kecuali meja abu itu replika. Barang-barangnya Bu Martha juga kami bawa ke sini. Baju pengantin ibunya bu martha. Kadang kalau ada tamu suka dipindahkan,” papar Reza.

Di teras bangunan tersedia kursi yang nyaman untuk duduk-duduk. Di dindingnya terpasang foto-foto lama, peta lama, dan beberapa artikel tentang daerah tujuan wisata di Gombong.

Di bagian ruang tengah, terdapat ruang tamu dan altar untuk leluhur Martha yang berasal dari keturunan Tiongkok. Foto-foto keluarga yang sudah tua, seperti kakek buyut, kakek, nenek, ayah, ibu, dan saudara-saudara Martha terpampang di dinding rumah.

Ada empat ruang tidur untuk orangtua dan anak-anak. Di teras belakang terdapat ruang makan dan halaman belakang yang luas dan rindang yang menjadi tempat bermain.

Di kanan kiri rumah utama terdapat paviliun yang merupakan kamar tidur anak-anak termasuk Martha Tilaar. Suasana di setiap ruangan dibuat semirip mungkin dengan aslinya.

Wisatawan bisa datang ke Roemah Martha Tilaar untuk sekedar berkeliling menikmati peninggalan masa lalu Martha Tilaar. Wisatawan juga bisa sekedar memotret atau “selfie” dengan latar belakang bangunan bersejarah.

“Kalau mau house tour bisa datang setiap saat dan nanti ada guide-nya yang temani tapi kami juga menyediakan paket-paket dengan makan siang. Itu minimal 15 orang kalau rombongan. Biasanya kami sediakan makan siang dan pertunjukan mocopat, salah satu tradisi di sini,” kata Reza.

Untuk bisa berkeliling Roemah Martha Tilaar, wisatawan dikenakan biaya Rp 15.000. Harga tersebut sudah termasuk biaya pemandu wisata. Roemah Martha Tilaar buka setiap hari Selasa-Minggu mulai pukul 09.00 – 17.00 WIB.


Editor : Setiyo
Sumber : KOMPAS

Komentar