Kisah Dusun Sodom Gomorah di Banjarnegara yang Dilaknat Allah SWT

Kabarkebumen.com - Rabu, 17 Desember 2017 | 15:29 WIB
Tugu peringatan Dusun Legetang di Kecamatan Batur, Banjarnegara, Jateng. (Eko S/Koran SINDO)

KABARKEBUMEN.COM - Mendengar nama kaum Sodom dan Gomorah tentunya akan teringat mengenai kisah di zaman Nabi Luth mengenai dua kota yang hancur akibat dilaknat Allah SWT. Kedua kota tersebut hancur karena penduduknya kerap melakukan hal-hal yang dibenci oleh Allah SWT seperti mabuk-mabukan, berzina, dan berjudi. 

Dalam bahasa Ibrani, Sodom berarti terbakar sementara Gomorah adalah terkubur. Memang itu yang terjadi pada kota itu, terbakar dan terkubur. 

Ternyata kisah nyata mengenai kota atau daerah yang hancur akibat penduduknya kerap berbuat maksiat juga terdapat di Kabupaten Banjarnegara. 

Daerah yang hilang akibat bencana tanah longsor yaitu Dusun Legetang yang terletak di Desa Pekasiran, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara, Jateng.

Masyarakat di sekitar memperoleh cerita mengenai kisah tragis hilangnya Dusun Lagetang secara turun-temurun dari kakek-nenek maupun orangtuanya. 

Diceritakan Dusun Lagetang tersebut hilang akibat tertimbun longsor secara tiba-tiba yang terjadi pada 16 April 1955.

Cerita tersebut sampai sekarang masih terdengar di masyarakat sekitar. Bahkan, untuk mencari bekas Dusun Legetang yang hilang dalam waktu semalam sangat mudah.

Jika anda dari Wonosobo, perjalanan menuju Dieng berbatasan Wonosobo dengan Banjarnegara hanya ditempuh dalam waktu satu jam, kalau menggunakan sepeda motor dan tidak terjebak kemacetan. 

Sepanjang perjalanan dari Kota Wonosobo sampai kawasan Dieng, Banjarnegara, akan menemui pemandangan alam yang nan asri. 

Meski melewati jalan berkelok-kelok maupun tebing yang curam, namun rasa penasaran terbayarkan karena disuguhi suasana pemandangan alam pegunungan dan pemandangan lahan pertanian sayur-mayur kanan maupun kiri jalan yang subur.

Tak terasa, saat memasuki kawasan tersebut terlebih pagi hari dingin begitu menggigit, sehingga jaket tidak pernah ditanggalkan. 

Untuk menuju ke Dusun Legetang yang hilang pada 1955 tersebut, bisa bertanya dengan tukang ojek yang mangkal di kawasan Dieng, Wonosobo. Mereka mengetahui rute menuju Dusun Legetang, Desa Pekasiran, Kecamatan Batur, itu.

Mantan Kepala Dusun (Kadus) Pesantren, Yahya (60) warga Kasiran RT 04 RW 01, Desa Pekasiran, mengatakan, dulunya warga Dusun Legetang, keadaan ekonominya makmur dari hasil pertanian. Namun, mereka kebanyakan warganya, melakukan perjudian, perselingkuhan dan minim dengan agama.

“Sebelum kejadian itu, warga telah tahu kalau Gunung Pengamun-amun retak, kemudian mereka membuat lubang besar dengan lebar 25 meter dan panjang 50 meter. Harapannya kalau terjadi longsor, masuk di lubang yang dibuat,” ujar Yahya memperoleh cerita dari almarhum ayahnya, Ahmad Yusuf, mantan Kadus, juga.

Sesekali sambil menyeruput kopi panas untuk menghangatkan badan karena hujan dan dingin itu, Yahya melanjutkan ceritanya, dari peristiwa tersebut hanya satu orang yang selamat. 

Orang yang selamat tersebut istri tertua dari bau (kepala dusun) Legetang Rana, yang asli Karangtengah. “Bu Rana, hanyut bersama kursinya,” ujar Yahya, sambil menghisap rokok lintingan klembak menyan sebagaimana kehidupan warga setempat.

Sementara itu, menurut H Mad Toyib (72) warga Kepakisan RT 02 RW 02, Desa Kepakisan, tanah longsor tersebut terjadi pada malam hari di pertengahan April 1955. 

Ketika itu, Indonesia baru merdeka menginjak usia 10 tahun sehingga kebanyakan terjadi kekurangan ekonomi, istilahnya terjadi Sensus (adol seng dienggo ngisi usus). 

Namun di Dusun Legetang, subur makmur dalam soal makanan. Namun, tiba-tiba pada pukul 23.00 WIB, terjadi longsor di Pegunungan Pengamun-amun di sisi barat dusun dan menutup Dusun Legetang. 

“Kejadian itu diluar dugaan warga karena longsoran melompati dan nyurung pekarangan Dusun Legetang,” tutur Toyib, yang saat kejadian berusia 11 tahun.

Diakui Toyib, jauh sebelum kejadian longsor tersebut dia pernah main sendiri ke dusun yang masih tetangga desa tersebut. 

Ketika itu, pernah main ke rumah saudaranya, almarhum Ahmad Nasir. Dalam kejadian tersebut, kelima saudaranya ikut hilang dan jasadnya tidak ditemukan karena terkubur longsoran. 

Ceritanya masyarakat setempat ada yang molimo khusus madon (main wanita) dan main (judi). “Kalau minum kan katanya, arak. Kalau arak, orang nggak kuat beli saat itu,” tuturnya.

Diceritakan Toyib, kehidupan warga Dusun Legetang saat itu, agamanya nol, kemudian akhlaknya bukan Islam. Hal tersebut karena Indonesia baru saja merdeka. 

Warga Dusun Legetang dulunya adalah para petani sukses dan makmur secara ekonomi. Sehingga warga disana tidak kekurangan secara ekonomi karena panen yang melimpah.

Bahkan jika di daerah lain gagal panen namun tidak demikiannya di Dusun Legetang karena panen melimpah dengan kualitas yang baik dibanding daerah lain.

Namun hal tersebut tidak menjadikan warganya bersyukur atas nikmat Allah. Sehingga banyak warga yang tenggelam dalam berbagai kemaksiatan. 

Berdasarkan cerita setiap malam warga dusun tersebut mengadakan tarian erotis yang dibawakan para penari perempuan sehingga berujung kepada perzinahan. 

Sehingga pada suatu malam turun hujan yang lebat dan masyarakat Legetang sedang tenggelam dalam kemaksiatan. 

Namun saat tengah malam hujan reda lalu tiba-tiba terdengar suara seperti suara benda yang teramat berat berjatuhan. 

Pagi harinya masyarakat di sekitar dukuh atau Dusun Legetang yang penasaran dengan suara yang amat keras itu menyaksikan bahwa Gunung Pengamun-amun sudah terbelah dan belahannya itu menimbun Dusun Legetang. 

Dusun Legetang yang tadinya berupa lembah itu bukan hanya rata dengan tanah, tetapi menjadi sebuah gundukan tanah baru menyerupai bukit. 

Seluruh penduduknya tewas. Gegerlah kawasan Dieng. Seandainya Gunung Pengamun-amun sekedar longsor, maka longsoran itu hanya akan menimpa di bawahnya. Akan tetapi kejadian ini bukan longsornya gunung. 

Antara Dukuh Legetang dan Gunung Pengamun-amun terdapat sungai dan jurang, yang sampai sekarang masih ada. 

Jadi potongan gunung itu terangkat dan melewatu sungai maupun jurang lalu jatuh menimpa Dukuh Legetang.

Untuk memperingati kejadian itu, pemerintah setempat mendirikan sebuah tugu yang hari ini masih bisa dilihat siapa pun. Ditugu tersebut ditulis dengan plat logam:

Sungguh kisah tenggelamnya dukuh Legetang ini menjadi peringatan bagi kita semua bahwa azab Allah swt yang seketika itu tak hanya terjadi di masa lampau, di masa para nabi, tetapi azab itu pun bisa menimpa kita di zaman ini. Bahwa sangat mudah bagi Allah swt untuk mengazab manusia-manusia lalim dan durjana dalam hitungan detik. Andaikan di muka bumi ini tak ada lagi hamba-hamba-NYa yang bermunajat di tengah malam menghiba ampunan-Nya, mungkin dunia ini sudah kiamat.


Editor : Setiyo
Sumber : SINDONews

Komentar