Apa itu Disleksia: Gejala, Penyebab, Diagnosis, dan Cara Mengobati

Kabarkebumen.com - Rabu, 11 Oktober 2017 | 11:42 WIB
ilustrasi

Definisi dan Gambaran Umum

Apa kesamaan antara Alexander Graham Bell, Albert Einstein, dan Leonardo da Vinci? Selain sama-sama merupakan salah satu figur paling terkenal dalam sejarah dan ilmu pengetahuan, mereka semua juga sama-sama menunjukkan tanda-tanda menderita disleksia.

Disleksia adalah gangguan kemampuan membaca dan menulis. Disleksia seringkali dianggap sebagai gangguan pada kemampuan membaca, kondisi ini juga meliputi ketidakmampuan dalam menulis dengan baik. Dengan kata lain, disleksia telah dianggap sebagai sebuah gangguan pada kemampuan belajar, bukan hanya dalam membaca.

Disleksia sudah ada sejak waktu yang lama dan sangat umum ditemui di masyarakat. Bahkan, di Amerika Serikat, sekitar 80% dari mereka yang tidak dapat membaca dengan baik dipercayai menderita disleksia. Selain itu, perbedaan etnis, jenis kelamin, dan latar belakang sosioekonomi tidak berpengaruh terhadap kondisi ini.

Meskipun telah terdapat berbagai riset dan penelitian tentang disleksia, masih banyak orang yang tidak memahami kondisi tersebut dengan baik. Berlawanan dengan kepercayaan populer, disleksia bukanlah sebuah tahapan belajar yang dialami oleh anak pada usia tertentu. Disleksia adalah sebuah kondisi seumur hidup, dan bisa menjadi sangat parah. Namun kini telah ada beberapa metode perawatan yang sangat efektif untuk mengatasi masalah tersebut.

Penyebab Disleksia

Salah satunya adalah keturunan. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa orang yang memiliki anggota keluarga atau kerabat yang memiliki disleksia, memiliki resiko lebih besar untuk mengalami kondisi tersebut. Sementara itu, beberapa ahli meyakini bahwa mereka yang menderita disleksia tidak menggunakan bagian otak kiri mereka, bagian yang mengatur kemampuan mengeja dan membaca, dengan semestinya.

Banyak orang percaya bahwa para penderita disleksia memiliki masalah dalam mengolah fonem, divisi terkecil dari suara ketika sebuah kata diucapkan. Membaca dan menulis menjadi kegiatan yang sulit untuk dilakukan karena otak harus merangkai huruf untuk membentuk kata, kemudian kalimat, atau paragraf untuk menjelaskan maksud mereka secara tepat.

Gejala

Rata-rata gejala disleksia akan mulai muncul sejak penderita berusia muda. Beberapa gejala yang telah diketahui antara lain:

Kreatif dan pandai

Kesulitan dalam membaca dan menulis

Pintar dalam berbicara

Buruk dalam menulis

Terlambat dalam belajar berbicara

Kesulitan dalam belajar bahasa baru, terutama bahasa asing

Kebingungan dalam menulis dan membaca huruf, kata, dan angka

Kesulitan dalam mengikuti kegiatan di sekolah

Kesulitan dalam membaca arah

Pendengaran yang lebih tajam

Khayalan yang kuat

Memiliki masalah dengan penglihatan (meskipun hasilnya mungkin sebaliknya)

Sering disebut kikuk atau memiliki masalah untuk berhubungan sosial

Memiliki kemampuan gambar-ruang (visual-spatial) yang baik

Mereka yang menderita disleksia juga memililki masalah dalam mengembangkan kemampuan hubungan sosial mereka karena mereka dipercaya memiliki:

Kepercayaan diri yang buruk

Depresi

Merasa dikucilkan

Diagnosa

Disleksia sulit untuk didiagnosa karena tidak berdampak secara fisik pada penderitanya. Apalagi, tidak ada perangkat khusus yang digunakan oleh para ahli dalam mendiagnosa kondisi tersebut. Karena itu, banyak penderita yang akhirnya tidak terdiagnosa.

Namun, para ahli saat ini telah mengembangkan metode di bawah ini untuk mendiagnosa disleksia:

Kaufman Assessment Battery untuk Anak-anak – dibagi ke dalam dua kategori utama, inti dan tambahan, dengan lebih dari 15 sub-tes.

Skala Kecerdasan Stanford-Binet – memeriksa kemampuan kognitif dan kecerdasan anak-anak; metode ini dapat mendeteksi adanya masalah perkembangan pada anak.

Tes Benton Visual Retention – Memeriksa memori gambar dan persepsi dari anak-anak berusia mulai dari delapan tahun; metode ini juga dapat digunakan untuk memeriksa disleksia pada orang dewasa.

Untuk hasil diagnosa terbaik, salah satu langkah awal yang harus dilakukan adalah membuat janji dengan dokter umum yang akan melakukan tes tahap awal. Dokter tersebut mungkin akan merujuk Anda untuk menemui dokter spesialis, tergantung pada hasil tes awal yang telah dilakukan.

Pengobatan

Tidak ada obat dan teknik pengobatan tertentu untuk disleksia. Diagnosis yang tepat sangat penting dalam menentukan tingkat kelemahan dari penderita, dan merancang metode pengobatan yang sesuai.

Beberapa anak dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan ruang kelas, namun kebanyakan tidak. Jadi, orangtua sangat dianjurkan untuk memasukkan anak mereka ke sekolah dengan kelas khusus atau yang menawarkan kegiatan belajar dan latihan tambahan untuk membantu anak mereka yang memiliki disleksia. Beberapa metode pembelajaran yang terkenal antara lain Orton Gillingham dan Slingerland.

Anak-anak yang menderita disleksia dianjurkan untuk menemui seorang ahli terapi bahasa dan membaca serta seorang psikolog-saraf. Mereka juga sebaiknya menemui konsultan dan guru mereka.

Disleksia dapat berdampak pada sikap dan perilaku mereka terhadap kegiatan belajar-mengajar di sekolah. Jadi, sangat penting bagi orangtua untuk tidak pernah berhenti mendukung anak mereka untuk terus berlatih menulis, membaca, dan berbicara. 


Sumber : Berbagai Sumber

Komentar